Rabu, 27 Juni 2012

RESUM: Materi Psikologi Kepribadian II


PENDAHULUAN

A.    Pengertian Kepribadian
Istilah kepribadian dalam bahasa Inggris dinyatakan dengan personality. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani, yaitu persona, yang berarti topeng dan personare, yang artinya menembus. Istilah topeng berkenaan dengan salah satu atribut yang dipakai oleh para pemain sandiwara pada jaman Yunani kuno. Dengan topeng yang dikenakan dan diperkuat dengan gerak-gerik dan apa yang diucapkan, karakter dari tokoh yang diperankan tersebut dapat menembus keluar, dalam arti dapat dipahami oleh para penonton. Dari sejarah pengertian kata personality tersebut, kata persona yang semua berarti topeng, kemudian diartikan sebagai pemaiannya sendiri, yang memainkan peranan seperti digambarkan dalam topeng tersebut. Dan sekarang ini istilah personality oleh para ahli dipakai untuk menunjukkan suatu atribut tentang individu, atau untuk menggambarkan apa, mengapa, dan bagaimana tingkah laku manusia.
Kepribadian menurut Gordon W.W. Allport. Pada mulanya Allport mendefinisikan kepribadian sebagai “What a man really is.” Tetapi definisi tersebut oleh Allport dipandang tidak memadai lalu dia merevisi definisi tersebut (Soemadi Suryabrata, 2005:240). Definisi yang kemudian dirumuskan oleh Allport adalah: “Personality is the dynamic organization within the individual of those psychophysical systems that determine his unique adjustments to his environment” (Singgih Dirgagunarso, 1998 : 11). Pendapat Allport di atas bila diterjemahkan menjadi : Kepribadian adalah organisasi dinamis dalam individu sebagai sistem psikofisis yang menentukan caranya yang khas dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan.
David Krech dan Richard S. Crutchfield (1969) dalam bukunya yang berjudul Elelemnts of Psychology merumuskan definsi kepribadian sebagai berikut : “Personality is the integration of all of an individual’s characteristics into a unique organization that determines, and is modified by, his attemps at adaption to his continually changing environment.” (Kepribadian adalah integrasi dari semua karakteristik individu ke dalam suatu kesatuan yang unik yang menentukan, dan yang dimodifikasi oleh usaha-usahanya dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan yang berubah terus-menerus).
PEMBAHASAN

A.    Tokoh-tokoh Kepribadian II
1.      Kurt Lewin
Kurt Lewin (1890-1947) kelahiran Prussia Timur (sekarang Polandia) adalah seorang psikologis eksperimental yang terkenal di University of Berlin yang melarikan diri sebagai pengungsi dari regim Hitler. Ia kemudian menjadi seorang psikologis sosial di Amerika dan mempelopori eksperimen klasik dalam komunikasi kelompok. Pada awalnya Lewin adalah seorang psikologi individualistik kemudian berubah menjadi psikologi sosial pada komunikasi kelompok kecil. Dan Lewin tercatat sebagai pendiri riset dan pelatihan di dinamika kelompok dan untuk menciptakan gaya manajemen partisipatif dalam organisasi.
a.      Teori Kepribadian Kurt Lewin
Ciri-ciri utama dari teori Lewin, yaitu :
1) tingkah laku adalah suatu fungsi dari medan yang ada pada waktu tingkah laku itu terjadi
2) Analisis dimulai dengan situasi keseluruhan dimana bagian-bagian komponennya dipisahkan
3) Orang yang kongkret dalam situasi yang kongkret dapat digambarkan secara matematis.
Perilaku manusia adalah suatu keadaan yang seimbang antara kekuatan-kekuatan pendorong (driving forces) dan kekuatan-kekuatan penahan (restrining forces). Perilaku ini dapat berubah apabila terjadi ketidakseimbangan antara kedua kekuatan tersebut didalam diri seseorang (Kurt Lewin, 1970). Ada 3 kemungkinan terjadinya perubahan perilaku pada diri seseorang itu, yakni: kekuatan-kekuatan pendorong meningkat, kekuatan-kekuatan penahan menurun, kekuatan pendorong meningkat, kekuatan penahan menurun.
b.      Konsep Kepribadian Kurt Lewin
Konsep-konsep teori medan telah diterapkan Lewin dalam berbagai gejala psikologis dan sosiologis, termasuk tingkah laku bayi dan anak anak , masa adolesent , keterbelakangan mental , masalah-masalah kelompok minoritas, perbedaan-perbedaan karakter nasional dan dinamika kelompok. Dalam makalah ini, kita akan memusatkan perhatian pada teori Lewin tentang struktur, dinamika dan perkembangan kepribadian yang dikaitkan dengan lingkungan psikologis, karena orang-orang dan lingkungannya merupakan bagian-bagian ruang kehidupan (life space) yang saling tergantung satu sama lain. Life space digunakan Lewin sebagai istilah untuk keseluruhan medan psikologis. Terakhir kita akan membahas evaluasi konsep kepribadian dari Kurt Lewin.
Lewin menggambarkan manusia sebagai pribadi berada dalam lingkungan psikologis, dengan pola hubungan dasar tertentu. Dengan cara ini , Lewin berusaha mematematisasikan konsep-konsepnya sejak dari permulaan. Matematika Lewin menggambarkan hubungan-hubungan spasial dengan istilah-istilah yang berbeda. Pada dasarnya matematika Lewin merupakan jenis matematika untuk menggambarkan interkoneksi dan interkomunikasi antara bidang-bidang spasial dengan tidak memperhatikan ukuran dan bentuknya.
Menurut Lewin, hakekat Perkembangan Kepribadian itu adalah:
1). Diferensiasi, yaitu semakin bertambah usia, maka region-region dalam pribadi seseorang dalam LP-nya akan semakin bertambah. Begitu pula dengan kecakapan kecakapan/ keterampilan keterampilannya. Contoh : orang dewasa lebih pandai menyembunyikan isi hatinya daripada anak-anak (region anak lebih mudah ditembus).
2). Perubahan dalam variasi tingkah lakunya
3). Perubahan dalam organisasi dan struktur tingkah lakunya lebih kompleks.
4). Bertambah luasnya arena aktivitas individu, contoh: Anak kecil terikat oleh masa kini sedangkan orang dewasa terikat oleh masa kini, masa lampau dan masa depan.
5). Perubahan dalam realitas. Dapat membedakan mana yang khayal dan yang nyata, pola berpikir meningkat ,contohnya dari pola berpikir assosiasi menjadi pola berpikir abstrak.

2.      Abraham Maslow
Abraham Harold Maslow adalah anak pertama dari ketujuh bersaudara. Ia lahir di Brooklyn, New York, pada tanggal 1 april 1908. Orang tuanya seorang imigran yahudi, berkebangsaan Rusia yang pindah ke Amerika Serikat dengan harapan memperoleh kehidupan yang lebih baik. Atas perintah orang tuanya, Maslow belajar hukum City College of New York (CCNY). Namun, setelah tiga semester, dia pindah ke Cornell lalu kembali lag ke CCNY. Dia menikah dengan sepupunya, Bertha Goodman, namun pernikahan ini bertentangan dengan keinginan orang tuanya, mereka dikarunia dua orang putri.
  1. Teori Kepribadian Abraham Maslow
Menurut Maslow bahwa banyak tingkah laku manusia yang bisa diterangkan dengan memperhatikan tendensi individu untuk mencapai tujuan-tujuan personal yang membuat kehidupan bagi individu yang bersangkutan penuh makna dan memuaskan. Menurutnya kepuasaan itu bersifat sementara yaitu jika suatu kebutuhan telah terpuaskan, maka kebutuhan-kebutuhan yang lainnya akan muncul menuntut kepuasaan, begitu seterusnya. Berdasarkan peristiwa tersebut oleh Maslow kebutuhan manusia yang tersusun bertingkat itu dirinci ke  dalam lima tingkat kebutuhan, yakni:
a). kebutuhan Fisiologis
Adalah sekumpulan kebutuhan dasar yang paling mendesak pemuasannya karena berkaitan langsung dengan pemeliharaan biologs dan kelangsungan hidup. Kebutuhan ini merupakan pendorong dan pemberi pengaruh yang kuat atas tingkah laku manusia, dan manusia akan selalu berusaha memuaskannya sebelum memuaskan kebutuhan-kebutuhan lain yang lebih tinggi.
b). Kebutuhan Rasa Aman
Adalah sesuatu kebutuhan yang mendorong individu untuk memperoleh ketentraman, kepastian, dan keteraturan dari keadaan lingkuangannya.
c). Kebutuhan Cinta dan Memiliki
Adalah suatu kebutuhan yang mendorong individu untuk mengadakan hubungan afektif atau ikatan emosional dengan individu lain, baik dengan sesame jenis maupun dengan yang berlainan jenis, di lingkungan keluarga ataupun di lingkungan kelompok di masyarakat.
d). Kebutuhan Rasa Harga Diri
Oleh Maslow kebutuhan ini dibagi menjadi 2 yaitu penghormatan atau penghargaan dari diri sendiri dan bagian yang ke dua adalah penghargaan dari orang lain. Bagian pertama menckup hasrat untuk memperoleh kompetensi, rasa percya diri, kekuatan pribadi, adekuasi, kemandirian, dan kebebasan. Adapun bagian yang kedua meliputi antara lain prestasi. Dalam hal ini individu butuh penghargaan atas apa-apa yang dilakukannya.
e). Kebutuhan Aktualisasi Diri
Kebutuhan untuk mengungkapkan diri atau aktualisasi diri merupakan kebutuhan manusia yang paling tinggi dalam teori Maslow. Kebutuhan ini akan muncul apabila kebutuhan-kebutuhan yang ada di bawahnya telah terpuaskan dengan baik.
Disamping kelima ajaran dasar diatas, Maslow juga menyebutkan lima kebutuhan, yaitu: kebutuhan Fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan cinta dan memiliki, kebutuhan akan rasa harga diri, dan yang paling puncak adalah kebutuhan akan aktualisasi diri.

3.      Carl Rogers
Carl Roger lahir 8 Januari 1902 – 4 Pebruari 1987 putra ke 4 dari 6 bersaudara lahir di Illinois dan sejak kecil menerima penanaman yang ketat mengenai kerja keras dan nilai agama Protestan.. Dibesarkan dari keluarga kalangan berada yang tinggal didaerah pertanian. Sehingga membawa minatnya pada ilmu alam , namun dikemudian ia mulai berkenalan dengan Psikologi Klinis. Terkenal dengan terapi yang berpusat pada klien (Clien Centered Therapy) dan Carl Rogers lebih menekankan pendekatan Fenomenologis dalam memandang kepribadian manusia. Mengemukakan 19 rumusan hakekat pribadi Fenomenologis.
  1. Teori Kepribadian Carl Rogers
Rogers lebih mementingkan dinamika dari pada struktur kepribadian. Namun demikian ada tiga komponen yang dibahas bila bicara tentang struktur kepribadian menurut Rogers, yaitu : organisme, medan fenomena, dan self. Rogers menyatakan bahwa self berkembang secar utuh-keseluruhan, menyentuh semua bagian-bagian. Berkembangnya self diikuti oleh kebutuhan penerimaan positif, dan penyaringan tingkah laku yang disadari agar tetap sesuai dengan struktur self sehingga dirinya berkembang menjadi pribadi yang berfungsi utuh.
  1. Struktur Kepribadian Menurut Carl Rogers
a. Organime, mencakup :
1. Makhluk hidup
Organisme adalah makhluk lengkap dengan fungsi fisik dan psikologisnya, tempat semua pengalaman dan segala sesuatu yang secara potensial terdapat dalam kesadar setiap saat.
2. Realitas subjektif
Organisme menanggapi dunia seperti yang diamati atau dialaminya. Realita adalah medan persepsi yang sifatnya subjektif, bukan benar-salah.
3. Holisme
Organisme adalah kesatuan sistem, sehingga perubahan pada satu bagian akan mempengaruhi bagian lain. Setiap perubahan memiliki makna pribadi atau bertujuan, yakni tujuan mengaktualisasi, mempertahankan, dan mengembangkan diri.
b. Medan fenomena (Phenomenal field)
Rogers mengartikan medan fenomena sebagai keseluruhan pengalaman, baik yang internal maupun eksternal, baik yang disadari maupun yang tidak disadari. Medan fenomena merupakan seluruh pengalaman pribadi seseorang sepanjang hidupnya.
Beberapa diskripsi yang menjelaskan pengertian Medan Fenomena :
a)      Pengalaman internal (persepsi mengenai diri sendiri), pengalaman eksternal (persepsi mengenai dunia luar);
b)      Meliputi pengalaman yang disimbolkan (symbolized) merupakan pengalaman disadari, Pengalaman yang disimbolkan tetapi diingkari atau terdistorsi (denied or distorted) merupakan pengalaman disadari, Pengalaman yang tidak disimbolkan atau diabaikan (ignored) merupakan pengalaman tidak disadari.
c)      Semua persepsi bersifat subyektif, benae bagi dirinya sendiri,
d)     Medan fenomena seseorang tidak dapat diketaui oleh orang lain, kecuali melalui melihat dari sudut pandang mereka (internal frame of reference)
c. Self
Self merupakan konsep pokok dari teori kepribadian Rogers, yang intinya adalah :
a) terbentuk melalui medan fenomena dan melalui introjeksi nilai-nilai orang tertentu;.
b) bersifat integral dan konsisten;
c) menganggap pengalaman yang tak sesuai dengan struktur self sebagai ancaman;
d) dapat berubah karena kematangan dan belajar.
Pribadi yang berfungsi utuh menurut Rogers adalah individu yang memakai kapasitas dan bakatnya, merealisasi potensinya, dan bergerak menuju pemahaman yang lengkap mengenai dirinya sendiri dan seluruh rentang pengalamannya.

4.      Jen dari Hsu
Dikemukakan oleh Francis L.K Hsu seorang warga negara USA keturunan Cina. Seorang sarjana filsafat, antropologi, kesusastraan Cina klasik, dan Psikologi. Menyusun konsep kepribadian Timur sebagai alternatif dari konsep kepribadian Psikologi Barat. Teorinya disebut Jen, Jen berasal dari sastra Cina yang berarti “Manusia yang berjiwa selaras, manusia yang berkepribadian”. Jen untuk menganalisis jiwa masyarakat timur, antara lain: Cina, Jepang, Asia termasuk Indonesia.
  1. Teori Kepribadian Jen dari Hsu
Struktur kepribadian digambarkan sebagai lingkaran-lingkaran yang konsentris yang menggambarkan kehidupan jiwa manusia. Bermaksud menganalisis jaringan terkait antara jiwa manusia dan lingkungan sosial budaya nya. Hsu menggambarkan lingkungan kepribadian manusia ada 8 lingkaran yang konsentris. Seperti dibawah ini;
Gbr. Lingkaran Konsentris
Penjelasan Gambar:
7: Lingkaran lapisan tidak sadar
6: Lapisan bawah sadar
5: Lapisan kesadaran yang tidak dinyatakan
4: Lapisan kesadaran yang dinyatakan
3: Lapisan hubungan akrab atau karib
2: Lapisan hubungan yang berguna
1: Lapisan hubungan jauh
0: Lapisan hubungan luar
Kesimpulan dari teori Jen dari Hsu adalah manusia yang berkepribadian adalah manusia yang dapat menjaga keseimbangan hubungan antara diri kepribadiannya dengan lingkungan sekitarnya. Terutama lingkungan yang terdekat kepada siapa kita mencurahkan rasa cinta, kemesraan, dan baktinya.


5.      Yoga
Ajaran Yoga dibangun oleh Maharsi Pantjali,dan merupakan ajaran yang sangat popular di kalangan umat Hindu. Ajaran Yoga merupakan ilmu yang bersifat praktis dari ajaran Veda. Yoga berakar dari kata Yuj yang berarti berhubungan, yaitu bertemunya roh individu (atman/purusa) dengan roh universal (Paramatman/Mahapurusa). Maharsi Patanjali mengartikan yoga sebagai Cittavrttinirodha yaitu penghentian gerak pikiran.
Yoga dari Bahasa Sansekerta yang  berarti ”penyatuan”, yang bermakna ”penyatuan dengan alam” atau ”penyatuan dengan Sang Pencipta”. Yoga merupakan salah satu dari enam ajaran dalam ”Filsafat Hindu”, yang menitikberatkan pada aktivitas meditasi atau tapa di mana seseorang memusatkan seluruh pikiran untuk mengontrol panca inderanya dan tubuhnya secara keseluruhan.
  1. Kitab Bagawadgita terdiri dari 18 bab, yaitu:
BAB I Arjuna Wisada Yoga (Meninjau tentara-tentara di medan perang Kurukshetra).
BAB II Ringkasan isi Bhagavad-gita, menguraikan tentang Arjuna menyerahkan diri sebagai murid kepada Sri Kresna, kemudian Kresna memulai pelajaran-Nya kepada Arjuna dengan menjelaskan perbedaan pokok antara badan jasmani yanag bersifat sementara dan sang roh yang bersifat kekal.
BAB III Karma Yoga, menguraikan mengenai semua orang harus melakukan kegiatan di dunia ini. Tetapi perbuatan dapat mengikat diri seseorang pada dunia ini atau membebaskan dirinya dari dunia.
BAB IV Jnana Yoga, menguraikan pencapaian yoga melalui pengetahuan rohani-pengetahuan rohani tentang sang roh, Tuhan Yang Maha Esa, dan hubungan antara sang roh dan Tuhan-menyucikan dan membebaskan diri manusia.
BAB V Karma Yoga, Perbuatan dalam kesadaran Krishna, orang yang bijaksana yang sudah disucikan oelha api pengetahuan rohani.
BAB VI Dhyana Yoga, menguraikan tentang astanga yoga, sejenis latian meditasi lahiriah, mengendalikan pikiran dan indria-indria dan memusatkan perhatian kepada Paramatma (Roh Yang Utama, bentuk Tuhan yang bersemayam di dalam hati).
BAB VII Pengetahuan tentang Yang Mutlak, Sri Krishna adalah Kebenaran Yang Paling Utama, Penyebab yang paling utama dan kekuatan yang memelihara segala sesuatu, baik yang material maupun rohani.
BAB VIII Cara Mencapai Kepada Yang Mahakuasa, Seseorang dapat mencapai tempat tinggal Krishna Yang Paling Utama, di luar dunia material, dengan cara ingat kepada Sri Krishna dalam bhakti semasa hidupnya, khususnya pada saat meninggal.
BAB IX Raja Widya Rajaguhya Yoga (Pengetahuan Yang Paling Rahasia)
BAB X Wibhuti Yoga, Kehebatan Tuhan Yang Mutlak, menguraikan mengenai sifat hakikat Tuhan yang absolut/mutlak.
BAB XI Wiswarupa Darsana Yoga, Bentuk Semesta, menguraikan tentang Sri Krishna menganugrahkan pengelihatan rohani kepada Arjuna.
BAB XII Bhakti Yoga, Pengabdian Suci Bhakti, menguraikan tentang cara yoga dengan bhakti.
BAB XIII Ksetra Ksetradnya Yoga, Alam, Kepribadian Yang Menikmati dan Kesadaran, menguraikan hakikat Ketuhanan Yang Maha Esa dalam hubungan dengan purusa dan prakrti.
BAB XIV Guna Traya Wibhaga Yoga, Tiga Sifat Alam Material, membahas Triguna (tiga sifat alam material) - Sattvam, Rajas dan Tamas.
BAB XV Purusottama Yoga, menguraikan beryoga pada purusa yang Maha Tinggi, Hakikat Ketuhanan.
BAB XVI Daiwasura Sampad Wibhaga Yoga, membahas mengenai hakikat tingkah-laku manusia, sifat rohani dan sifat jahat.
BAB XVII Sraddha Traya Wibhaga Yoga, menguraikan mengenai golongan-golongan keyakinan.
BAB XVIII Moksa Samnyasa Yoga, Kesempurnaan pelepasan ikatan, merupakan kesimpulan dari semua ajaran yang menjadi inti tujuan agama yang tertinggi.
Karma Yoga, berisi khotbah Kresna kepada Arjuna yang menguraikan Filsafat Hindu mengenai Karma (perbuatan; kewajiban) dan Phala (hasil; buah). Arjuna berkata: ”Yadnya – melakukan pekerjaan tanpa mengikatkan diri, dengan ikhlas dan untuk Tuhan”. Panca Yadnya diantaranya yaitu: Dewa Yadnya, yaitu yadnya pada Tuhan. Rsi Yadnya, yaitu mengajar dan membaca kitab suci, sebagai yadnya pada Rsi. Pitra Yadnya, yakni pemberian kepada leluhur. Manusa Yadnya, yaitu memberi pertolongan/makanan kepada orang-orang memerlukan bantuan, miskin, serta upacara dari lahir sampai mati. Bhuta Yadnya, yakni memelihara dan memberikan makanan pada binatang-binatang.

6.      Abidhamma
Abhidamma berkembang di india pada abad ke 15 yang lalu. Abhidamma berarti ajaran pokok yang menguraikan wawasan – wawasan asli dari budha gautama tentang kodrat manusia. Dalam Abhidamma kata “kepribadian” serupa dengan diri menurut konsep barat. Bedanya, asumsi dasar Abhidamma tidak ada diri yang kekal. Menurut Abhidamma kepribadian manusia sama seperti sungai yang memiliki bentuk tetap (tidak ada orang yang mengamati mampu terlepas dari persepsi). Dalam Abhidamma kata “kepribadian” serupa dengan diri menurut konsep barat. Bedanya, asumsi dasar Abhidamma tidak ada diri yang kekal. Menurut Abhidamma kepribadian manusia sama seperti sungai yang memiliki bentuk tetap (tidak ada orang yang mengamati mampu terlepas dari persepsi).
a.      Teori Kepribadian Abidhamma
Objek psikologi abhidamma meliputi; penginderaan dari panca indera, pikiran-pikiran yang dianggap sebagai indera keenam, setiap keadaan jiwa terdiri atas sekumpulan sifat-sifat jiwa (yang disebut faktor-faktor jiwa), dan sifat-sifat jiwa ini (misal cinta, benci, adil, bengis, social).
Mengenai faktor-faktor jiwa dapat dikelompokkan menjadi dua macam, yakni:
1. Kusula : berarti murni, baik, sehat.
2. Akusula : berarti tidak murni, tidak baik, tidak sehat
Menurut ajaran abhidamma tipe –tipe kepribadian menurut Abhidhamma, secara langsung diturunkan dari prinsip bahwa faktor-faktor jiwa muncul dalam kekuatan yang berbeda-beda.



Tipe-tipe manusia dalam buku Visudhimagga adalah sebagai berikut:
1. Tipe orang suka kenikmatan: Berpenampilan menarik; sopan dan menjawab dengan hormat jika disapa.
2. Tipe orang pembenci: Berdiri dengan kaku, tempat tidur dibereskan dengan serampangan.
3. Tipe Orang delusi: Pakaiannya compang-camping, benangnya berseliweran, kasar seperti rami, berat dan tidak enak dipakai.
Abhidama merupakan aliran dari faham budha Gautama yang berkembang menjadi aliran mahaya dan hinaya , aliran ini lebih menekankan pada psikologi kepribadian yang ada pada manusia baik dari segi sifat, karakter, kondisi kejiwaan manusia.abhidamma menguraikan wawasan asli dari Buddha Gautama tentang kodrat manusia dan abhidamma merupakan inti dari berbagai cabang Buddhisme.
7.      Sufisme
Tasawuf (Tasawwuf) atau Sufisme (bahasa Arab: تصوف , ) adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihan akhlaq, membangun dhahir dan batin, untuk memporoleh kebahagian yang abadi. Tasawuf pada awalnya merupakan gerakan zuhud (menjauhi hal duniawi) dalam Islam, dan dalam perkembangannya melahirkan tradisi mistisme Islam. Tarekat (pelbagai aliran dalam Sufi) sering dihubungkan dengan Syiah, Sunni, cabang Islam yang lain, atau kombinasi dari beberapa tradisi. Pemikiran Sufi muncul di Timur Tengah pada abad ke-8, sekarang tradisi ini sudah tersebar ke seluruh belahan dunia.
Ada beberapa sumber perihal etimologi dari kata "Sufi". Pandangan yang umum adalah kata itu berasal dari Suf (صوف), bahasa Arab untuk wol, merujuk kepada jubah sederhana yang dikenakan oleh para asetik Muslim. Namun tidak semua Sufi mengenakan jubah atau pakaian dari wol. Teori etimologis yang lain menyatakan bahwa akar kata dari Sufi adalah Safa (صفا), yang berarti kemurnian. Hal ini menaruh penekanan pada Sufisme pada kemurnian hati dan jiwa. Teori lain mengatakan bahwa tasawuf berasal dari kata Yunani theosofie artinya ilmu ketuhanan.
Yang lain menyarankan bahwa etimologi dari Sufi berasal dari "Ashab al-Suffa" ("Sahabat Beranda") atau "Ahl al-Suffa" ("Orang orang beranda"), yang mana dalah sekelompok muslim pada waktu Nabi Muhammad yang menghabiskan waktu mereka di beranda masjid Nabi, mendedikasikan waktunya untuk berdoa.


a.      Kepribadian Menurut Sufisme
Metafisikatradisional mempunyai teori yang jelas mengenai kepribadian. Kepribadian manusia, menurut tradisi islam, mengandung tiga aspek: ruh (rûh), hati (qalb), dan jiwa (nafs). Harus dibuat perbedaan menyangkut hal berikut ini:
1)      al-nafs al-hayawaniyyah (jiwa hewan), jika yang secara pasif tunduk pada hasrat-hasrat alamiah;
2)      al-nafs al ammarah (jiwa yang memerintah), jiwa yang menuruti hawa nafsu dan egois;
3)      al-nafs al-lawwamah (jiwa yang menyalahkan), jiwa yang sadar akan kekurangan-kekurangannya sendiri; dan
4)      an-nafs al-muthma’innah  (jiwa yang damai), jiwa yang menyatu kembali kedalam ruh dan tenang dalam kepastian. Tiga ungkapan yang terakhir itu berasal dari Al-Quran.
Pandangan mengenai kepribaadian ini telah dijelaskan oleh berbagai otoritas sufi. Misalnya, M. Asyraf ‘Ali Tsanvi, dalam karyanya Bawadil Al-Nawadir, telah menyajikan uraian yang sangat jelas mengenai proses dan tahapan pikiran manusia. Pikiran melewati lima tahapan sebelum ia menjadi sebuah keputusan. Tahapan pertama  (hajis)  adalah tahapan pemikiran sekilas. Tahapan kedua [khathir] adalah tahapan ketika pikiran bertahan selama beberapa waktu. Tahapan ketiga adalah hadist al-nafs, dialog batin yang dilakukan ego dengan “jiwa” nafs-nya. Tahapan keempat [hamm] tercapai ketika sudah ada kesiapan untuk mengambil keputusan , dan tahapan kelima ‘azm adalah tingkat keputusan yang tercipta dengan sendirinya. Dari sudut penyakit mental, tahap ketiga merupakan tahapan yang paling penting. Ia adalah tahapan verbalisasi batin atau mungkin subvokalisasi, dan jika seseorang terus-menerus berbicara dengan dirinya sendiri, maka akan timbul gangguan mental. Tahapan-tahapan batin ini telah dijelaskan oleh seorang sufi Darqawi, Syaikh habib, dari Tetuan, sebagai “impulsimpuls pikiran”. Dia berkata, “waspadalah terhadap tipuan dari impuls-impuls pikiran; impuls-impuls itu melemahkan nasihat yang baik dan sering berdusta.”
Hati tidak boleh dicampuradukkan dengan hati yang lain yang bersifat fisik, emosi-emosi atau pikiran manusia. Kiranya relevan jika disini ada kutipan F. Schuon, yang telah memberi penjelasan sangat bagus mengenai fungsi-fungsi hati yang dikaitkan dengan akal dan intuisi intelektual. Dia berkata: “Genius intelektual tidak boleh dicampuradukkan dengan ketajaman mental menurut para ahli logika. Intuisi intelektual pada dasarnya terdiri dari daya kontemplatif yang sama sekali tidak mungkin masuk ke dalam kapasitas rasional, karena yang disebut terakhir itu lebih bersifat logis dari pada kontemplatif. Ia merupakan daya yang mampu menerima cahaya. Itulah yang membedakan kecerdasan transenden dari akal”. Untuk memahami godaan terus-menerus yang ditimbulkan oleh nafs, perlu digali lebih dalam makna hati dan hakikatnya.

8.      Kramadangsa
Nama Ilmu Jiwa Kramadangsa diambil dari buku yang diberi judul demikian. Buku tersebut merupakan bahan ceramah Ki Ageng Soerjomentaram bersama Ki Pronowowidigdo di Yayasan Hidup Bahagia di Jakarta pada tahun 1959. Namun keseluruhan dari wejangan-wejangan Ki Ageng yang semula diberi nama “Kawruh begja”atau Kawruh Jiwa”. Kramadangsa adalah sekedar nama. Istilah ini dimaksud oleh Ki Ageng sebagai rasa pribadi yang identik denagn namanya sendiri.
a.      Dinamika Kepribadian Kramadangsa
Tiga pokok penting akan dicoba diuraikan di bawah ini yang pertama adalah tentang rasa, yang kedua tentang Aku (Kramadangsa), serta ketiga mawas diri.
1. Rasa
“Wong Jawa iku nggone rasa,” demikian sebuah ungkapan yang sangat dikenal di kalangan masyarakat Jawa. Suseno (1983) menjelaskan;

‘Dalam bahasa aslinya, yaitu Sansekerta, “rasa” mempunyai berbagai arti. Arti     pokoknya ialah “air” atau “sari” buah-buahan atau tumbuhan. Dari situ rasa lalu     berarti pengecapan (taste), perasaan (perasaan cinta, marah, belas kasihan,     kemesraan); lalu rasa juga berarti “inti”, “suara suci OM” yang adalah pernyataan     kodrat ilahi. Bagi para pujangga rasa berarti kenikmatan terdalam (delight, charm) sedangkan rasa dari suatu karya sastra ialah “inti dasarnya yang halus dan dalam” (keynote).’
Dalam kepustakaan Jawa, agaknya rasa dipahamkan sebagai substansi atau zat yang mengalir alam sekalir artinya ia berupa pertemuan antara jagad gedhe dan jagad cilik. Terkadang ia muncul sebagai daya hidup.
Sementara Ki Ageng Soerjomentaram sendiri berpendapat, bahwa hanya dengan jalan mentransendensasikan rasa bertentangan inilah manusia dapat mengembangkan rasa yang lebih tinggi, yakni rasa bebas. Ki Ageng juga berpendapat bahwa orang baru merasa ‘ada’ apabila ia berhubungan dengan orang lain, dengan benda atau rasanya sendiri.
Rasa bertindak-tanduk dalam gagasan dan pikiran, misalnya rasa marah akan menimbulkan pikiran untuk mencelakakan orang lain. Rasa unggul muncul dalam gagasan untuk ngaya-aya mencari drajat, semat, keramat. Rasa Kramadangsa adalah rasa namanya sendiri, ketika seseorang dipanggil menurut namanya.
Kita mengenal hirarki rasa, muali dari yang paling wadhag, berhubungan dengan badan kasar, badan halus, dan roh. Demikianlah kita kenal:
1)      Rasa Pangrasa, yakni rasa badan wadhag, seperti yang dihayati seseorang melalui indranya: rasa pedas, manis, gatal dsb. Juga rasa yang hadir kebadan seseorang, seperti misalnya rasa sakit, rasa enak.
2)      Rasa Rumangsa, yakni rasa eling, rasa cipta, rasa grahita, misalnya ketika seseorang menyatakan bahwa Kramadangsa telah “ngrumangsani kaluputane” atau “rumansa among titah, Kramadangsa among saos sukur”.
3)      Rasa Sejati, yakni rasa yang masih mengenal rasa yang merasakan, dan rasa dirasakan. Sudah manunggal, tetapi masih disebut. Rasa damai, rasa bebas dll.
4)      Sejatining Rasa, yakni Rahsa, yang berarti hidup itu sendiri abadi.
2. Aku, Kramadangsa.        
Kita lihat bahwa kepribadian manusia Jawa terutama dibetuk dari interaksinya dengan lingkungan luar (kenyataan), serta lingkungan dalam (kasunyatan). Sementara Reksosusilo (1983) menunjukan bahwa ‘aku’nya orang Jawa tidak pernah tunggal individual. Kramadangsa adalah nama orang. Ilmu Jiwa Kramadangsa adalah ilmu jiwa mengenai orang yang bernama Kramadangsa. Kita sendiri adalah orang; jadi mempelajari Ilmu Jiwa Kramadangsa adalah mempelajari diri sendiri.
Manusia adalah juru catat. Melalui panca indera ia menciptakan segala macam kenyataan dalam rasanya. Peran sebagai juru catat adalah peranan dalam ukuran kesatu. Catatan-catatan ini hidup apabila mendapat perhatian dari si juru catat. Dari catatan-catatan ini muncul rasa “Kramadangsa”, rasa aku dengan namanya sendiri.
Karamadangsa mengawasi tindak-tanduknya sendiri. Dalam perhubungan dengan orang lain, orang merasakan perasaan orang lain dalam rasanya sendiri. Kramadangsa perlu membedakan rasanya sendiri, dengan rasa orang lain. Orang adalah barang asal. Sebagai barang asal, ia adalah juru catat pengalamna-pengalamanya. Dalam bangunan asal ini, ada “ada” yang pra-personal, terkadang disebut pra-self. Rasa aku dilahirkan dari rasa catatan-catatan ini, baik jumlah, ragam maupun susunannya.
Sehingga dalam diri manusia ada dua kau, yakni aku tak tetap dan aku tetap. Aku tak tetp ini mengahdirkan diri sesuai dengan keinginan-keinginannya. Aku tetap adalah aku universal, yang telah bebas dari catatan-catatannya sendiri bahkan bisa mengawasi diri sendiri. Manusia tanpa cirilah yang menjadi sebab kenapa manusia mampu membebaskan diri dari keinginan-keinginan yang tanpa batas.
3. Mawas Diri
Mawas diri telah menjadi bagian yang tak terpisahkan lagi dari kebudayaan Jawa, baik dalam tradisi mitis maupun etis. Sekalipun perlu diingat bahwa hampir semua kepustakaan Jawa keterkaitan antara tradisi etis dan mistis adalah sangat erat. Mawas Diri adalah tahap integrasi diri di mana egoisme dan egosentrisme diganti dengan sepi ing pamrih (Rahmat Subagyo, 1983)
Mawas diri pada dasarnya adalah meneliti rasa sendiri. Apabila meneliti diri sendiri sampai tuntas, maka orangakan mencapai manusia tanpa ciri. Mawas diri adalah kegiatan manusia dalam dataran psikologi, menembus ke dataran religius etis. Mawas diri dimulai dengan meneliti rasa senang dan rasa susahnya sendiri; yakni rasa orang dalam perhubungannya dengan benda, orang lain serta gagasan.
Secara khusus, mawas diri dilaksanakan dalam hubungan Kramadangsa dengan orang lain. Dengan meniliti rasa sendiri, rasa orang lain dalam rasanya sendiri, orang akan dapat memilahkan rasanya sendiri dengan rasa orang lain. Terkadang dalam usahanya  mawas diri juga mengalami hambatan. Pamrih untuk mencampai kesempurnaan dalam hidup, justru menjadi hambatan utamanya. Terkadang dalam usaha untuk menjadi sempurna, orang sering tergoda untuk memperoleh ilham, wahyu, atau anugerah lain yang membuat ia menjadi sempurna.
Sebenarnya tidak semua mawas diri punya bau mistik yang keras. Kitab jayengbaya dari Ki Sarataka, nama Raden Ngabehi Ronggowarsito semasa muda, dengan penuh humor melakukan mawas diri. Ia membayangkan diri menjadi orang lain, menimbang-nimbang susah-senangnya, sampai akhirnya dia sampai pada kesimpulan bagaimanapun juga lebih enak jadi diri sendiri.


Mawas diri telah menjadi bagian dari akal sehat masyarakat Jawa untuk masa yang lama. Dalam kepustakaan Kebatinan, istilah ini juga dikenal sangat luas. Brataksewa (lihat Darminta, 1980), misalnya menytakan adanya tingkatan-tingkatan kualitas pengkajian diri ini:
1)      Nanding sarira, di mana seseorang membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain an mendapatkannya dirinya lebih unggul.
2)      Ngukur sarira, di mana seseorang mengukur orang lain dengan dirinya sendiri sebagai tolak ukur.
3)      Tepa sarira, dimana seseorang mau dan mampu merasakan perasaan orang lain.
4)      Mawas diri, dimana seseorang mencoba memahami keadaan dirinya sejujur-jujurnya.
5)      Mulat sarira, lebih dari mawas diri, dimana manusia menetukan identitas yang terdalam sebagai pribadi



REFERENSI

~ Suryabrata, S. (Ed. Terakhir). Psikologi Kepribadian. Jakarta : CV Rajawali
~ Hall, C.S & Lindzey, G. 1985. Theories of Personality. New York : John Wiley & Sons
~ Allport, G.W. 1961. Pattern and Growth in Personality. London : Hold, Rinchart & Winston
~ www.kompas.com, Rasa Memiliki yang Sewenang-wenang. Diunduh tanggal 03-01-2012
~ Jatman, Sudarmanto. 2008. ILMU JIWA KAUM PRIBUMI (Indigenous Psychology). E-book; Universitas Diponegoro Semarang
~Syeikh Idris Shah. Mahkota Sufi. E-book; sumber:http://media isnet.org
~ Anwar, Rosihan. 2009. Akhlak Tasawuf. Bandung: CV Pustaka Setia
~ Ruswandi, Uus, Badrudin. 2010, pengembangan Kepribadian Guru. Bandung: CV. Insan Mandiri.
~Yusuf, Samsu. 2008. Teori Kepribadian. Bandung: Rosda Karya
~ Koeswara. 1991. Teori-teori Kepribadian Psikoanalisis, Behaviorisme, Humanistik. Bandung: Eresco.
~ Ki fudyartanto. 2003. Psikologi kepribadian timur. Jakarta: Pustaka pelajar
~ Ivan, Taniputera, Dipl. Ing. 2003. Sains Modern dan Buddhisme. Menelaah Persamaan Buddhisme dan Sains dalam Bidang Kosmologi, Fisika Kuantum, Biologi, Matematika dan Psikologi. Jakarta: Yayasan Karaniya