Senin, 28 Maret 2011

TEORI BEHAVIOUR ERIK ERIKSON


ERIK ERIKSON

        A.     Biografi Erik H. Erikson

Erik Erikson lahir di Frankfurt, Jerman, tanggal15 Juni tahun 1920, dari orang tua berkebangsaan Denmark, keluarga ibunya adalah yahudi, Erikson tidak pernah mengenal ayahnya yang sebenarnya karena orang tuanya berpisah sejak dia lahir. Ibunya menikah dengan seorang dokter Dr. Homburger. Tahun 1939 setelah Erikson hijrah ke Amerika, ia menambahkan nama ayahnya dan dikenal sebagai Erik Homburger Erikson.
Sesudah menyelesaikan pendidikan di Gymnasium, Jerman. Erikson mempelajari psikoanalisis di Institut Psikoanalisis Wina dan lulus pada tahun 1933. Setelah itu ia menikah dengan Joan Serson, seorang penari kelahiran Kanada. Setelah menikah mereka memutuskan untuk pindah ke Denmark, setelah dari Denmark mereka ahirnya pindah ke Boston, Amerika Serikat (1933). Dan menjadi ahli pertama di bidang psikoanalisis anak di kota itu.

B.     Perumusan-perumusan Teoritis Erikson

Teori psikososial tentang perkembangan, tahap-tahapannya adalah sebagai berikut:

1.  Kepercayaan Dasar versus Kecurigaan Dasar
Kepercayaan dasar adalah Kepercayaan yang paling awal terbentuk selama tahap sensorik oral dan ditunjukkan bayi lewat kapasitasnya. Sedangkan kecurigaan dasar ialah kecurigaan dasar yang pada pokoknya adalah perkembangan esensial bagi perkembangan manusia. Perbandingan keduanya menimbulkan pengharapan.

2. Otonomi versus Perasaan Malu dan Keragu-raguan
Pada tahap kedua kehidupan (tahap maskural anal dalam skema psikoseksual) anak mempelajari apakah yang diharapkan dari dirinya, yang menimbulkan sejenis tuntutan ganda pada anak tuntutan untuk mengontrol diri sendiri, dan tuntutan untuk menerima kontrol dari orang-orang lain dalam lingkungan. Untuk mengendalikan sifat kemauan pada anak, orang-orang dewasa akan memanfaatkan kecenderungan universal pada manusia untuk merasa malu, namum mereka juga mendorong anak untuk mengembangkan perasaan otonomi dan akhirnya mandiri.

3. Inisiatif versus Kesalahan
Masa bermain pada tahap ini anak menampilkan diri lebih maju dan seimbang secara fisik maupun kejiwaan. Inisiatif dan otonomi memberikan kepada anak suatu kualitas sifat mengejar dan meraih tujuan. Bahya dari tahap ini adalah perasaan bersalah yang menghantui anak karena terlalu bergairah memikirkan tujuan-tujuan.

4. Kerajinan versus Inferioritas
Dalam proses epigenetik (periode laten), anak harus belajar mengontrol imajinasinya dan mulai menempuh pendidikan formal, ia mengembangkan sifat rajin dan mempelajari ganjaran dari ketekunan dan kerajinan. Bahaya dari  tahap ini adalah anak bisa merasa rendah diri apabila ia tidak berhasil (merasa menjadi seperti demikian) mengerjakan tugas-tugas yang diberikan kepadanya.

5. Identitas versus Kekacauan Identitas
Selama masa adolesen, individu mulai merasakan suatu perasaan tentang identitasanya sendiri, perasaan bahwa ia manusia unik namun siap memasuki peranan yang berarti dalam masyarakat. Innilah masa dalam kehidupan ketika orang ingin menentukan siapakah ia pada masa sekarang dan ingin menjadi apakah ia dimasa datang, adalah ego sebagai daya penggerak pembentukan identitas. Karena peralihan mendadak dari masa kanak-kanak kemasa dewasa karena kepekaan sosial dan historis seorang remaja mungkin merasakan penderitaan paling dalam dibandingkan dengan masa-masa lain yang disebut dengan kekacauan identitas.

6. Keintiman versus Isolasi
Pada masa dewasa awal (young adults), mereka siap  dan ingin menyatukan identitasnya dengan orang-orang lain. Mereka mendambakan hubungan-hubungan yang intim-akrab, dan persaudaraan, memenuhi komitmen-komitmen meski berkorban. Maka timbulah cinta anak-anak muda itu dapat mengembangkan genitalitas (genitality) seksual yang sesungguhnya.

7. Generativitas versus Stagnasi
Ciri tahap generativitas adalah perhatian terhadap apa yang dihasilkan-keturunan, produk-produk, ide dan sebagainya. Apabla generativitas lemah atau tidak diungkapkan maka kepribadian akan mundur, dan mengalami pemiskinan serta stagnasi. Nilai pemeliharaan (care) berkembang dalam tahap ini, pemeliharaan terungkap dalam kepedulian seseorang pada orang lain, dalam keinginan memberi perhatian kepada mereka.
Penyimpangan-penyimpangan dari ritualisasi generasioanal tercermin dalam ritualisme autoritisme, autoritisme adalah pencaplokan atau perongrongan kekuasaan yang bertentangan dengan pemeliharaan.

8. Integritas versus Keputusasaan
Integritas paling tepat dilukiskan sebagai keadaan yang dicapai seseorang setelah memelihara benda-benda, orang-orang, produk-produk, dan ide-ide, dan setelah menyesuaikan diri dengan keberhasilan-keberhasilan dan kegagalan-kegagalan dalam hidup. Ia akan dengan bangga mempertahankan integritasnya dan mempertahankannya dari potensi-potensi ancaman.
Lawan integritas adalah keputusasaan tertentu menghadapi perubahan-perubahan siklus kehidupan individu tehdap kondisi sosial dan historis, belum lagi kefanan hidup pada kematian. Kebijaksanaan adalah nilai yang berkembang dari hasil pertemuan antara integritas dan keputusasaan dalam tahap kehidupan yang terakhir ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar